Tampilkan postingan dengan label KOPHI Kaltim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KOPHI Kaltim. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 November 2018

Upgrading Gaya Baru Dengan Psikodrama

Minggu, 4 November 2018 Koalisi Pemuda Hijau Regional Kalimantan Timur mengadakan Upgrading dan Gathering. Menjalin kembali tali silaturahim, berkumpul bersama menyambut anggota baru yang sudah melewati tahap seleksi berkas dan wawancara. Pemateri pertama, kak Abbas sebagai pembina memberikan informasi tentang KOPHI KALTIM.

KOPHI pertama kali hadir di Jakarta, tepat pada hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2010. Di Kalimantan Timur KOPHI hadir 11 November 2011. Dipelopori oleh Bang Saat Egra, kala itu beliau masih menjadi mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. KOPHI hadir karena pemuda resah akan permasalahan lingkungan saat ini, harapannya para pemuda dapat berkoalisi dan memberikan solusi bagi perubahan iklim dan permasalahan lingkungan.
KOPHI KALTIM terdiri dari 4 divisi, yaitu :
Pengembangan Sumber Daya Manusia; Penelitian dan Pengembangan,
Design Kreatif, dan Hubungan Masyarakat. PSDM, divisi yang meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada di KOPHI KALTIM.
Untuk penelitian dan pengembangan, meneliti permasalahan lingkungan terkini, membahas, dan menjadikan sebuah informasi.
Kemudian design kreatif, informasi dari LITBANG akan disampaikan melalui visual atau poster dan diunduh ke media sosial.
Dan, hubungan masyarakat merupakan divisi yang langsung berinteraksi dengan komunitas atau lembaga lainnya. Tapi dari itu semua, diharapkan para anggota mampu bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan. Menjadi wadah koalisi dari berbagai komunitas pemuda yang peduli terhadap perubahan iklim dan lingkungan hidup, baik dari akademisi maupu non akademisi.
Setelah materi dari kak Abbas, selanjutnya ada kak Putri yang akan memberikan materi tentang Team Building dengan metode PSIKODRAMA. Jadi, kami berkenalan melalui icon yang “gue banget”. Ada yang iconnya api, mengartikan dirinya memiliki semangat berapi-api. Kucing, karena gak suka dengan kucing. Kopi yang khas dan unik. Masih banyak icon lainnya, menggambarkan “seberapa gregetnya kamu”, sebuah kalimat yang sedang hits di kalangan kawula muda.
Selanjutnya kami bermain sculpture atau mematung, awalnya membentuk menjadi sebuah pohon, air terjun, sungai, suasana rumah, taman, dan sebuah konser. Setelah menetapkan diri ingin menjadi pohon, lalu mematung.
Berganti gaya, ada yang berpikir akan menjadi apa. tapi sedikit yang melirik kanan kiri untuk memperhatikan sekitar. Sejenak berpikir, “temanku akan jadi apa ya?”. Akhirnya karena tak serasi, beberapa kali peran jadi berantakan. Misalnya di sebuah konser, ada yang yang berjualan di atas panggung. Ada backing vocal yang malah berada di belakang penonton. Ternyata dari permainan ini, kami belajar untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan saling berkomunikasi.
Permainan berikutnya adalah lokogram; ada tiga titik yaitu feel, logis, dan action. Kami dipersilakan memilih mana titik yang paling “gue banget”. Hanya ada tiga orang yang berada di action, lima memilih feel, dan banyak yang ada di logis. Lalu kami ditanya, Jika diberi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan, kami akan memilih titik yang mana? Menetapkah atau berganti posisi? Ada 3 orang yang tetap pada pendirian, mereka berada di logis. Ada juga dari action memlilih feel, melatih kemampuan untuk merasa. Atau sebaliknya, dari yang perasa menjadi ingin melakukan sesuatu. Dari kegiatan tersebut, kami belajar untuk memposisikan diri sesuai dengan keadaan kami saat ini, lalu menentukan untuk berbuat apa kedepannya.
Lalu kami bermain spektogram, ada skala 10 sampai 100. Seberapa besar antusias untuk ikut kegiatan ini dan komitmen pada kegiatan selanjutnya? Ada yang memilih 50, 70, 80, 90, dan 100. Tentunya dengan berbagai alasan; masih ragu antara datang atau tidak, ada kegiatan lain, ada juga yang ingin tahu lebih banyak tentang KOPHI KALTIM. Berikutnya, masih dengan skala untuk melihat komitmen. Ada yang 60, 80, bahkan 100. Alasan bermacam macam karena masih memiliki amanah di tempat lain. ada juga yang karena sadar betapa pentingnya menjaga lingkungan dan mengajak orang banyak untuk peduli.
Kegiatan terakhir, yaitu refleksi. Ada 4 titik; dimulai dari sebelum datang, proses kegiatan, apa yang didapat, dan harapan. Jadi, masing-masing anggota diminta untuk menceritakan perasaan sebelum sampai di tempat kegiatan. Ada yang penasaran dan memang sudah meluangkan waktu untuk hadir, dalam melalui prosesnya menyenangkan, mendapat banyak teman dan pengetahuan baru, lalu berharap selanjutnya dapat bertahan di KOPHI KALTIM dan menjadi bagian yang mampu melestarikan lingkungan.
Sebelum kembali ke aktivitas masing-masing, ucapkan 3 kalimat sakti sebagai penutup. Berbagai kata positif yang diucapkan oleh teman-teman; seperti semangat baru, menjadi lebih baik, inovatif, dan berbagai kata yang mampu mewakili perasaaan hari itu. Sampai bertemu di pertemuan selanjutnya, upgrading dan gathering kali ini sungguh berbeda dan penuh makna.
Salam lestari!
Samarinda, 12 November 2018
Adilah Rizma Yuniar

Jumat, 01 Juni 2018

Talkshow Etam Membumi 2018 KOPHI KALTIM




KOPHI KALTIM, Samarinda 1 Juni 2018 bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, Koalisi Pemuda Hijau Indonesia Kalimantan Timur (KOPHI KALTIM) mengadakan acara Talkshow Etam Membumi di tribun Taman Cerdas Jalan Mayjen S. Parman Samarinda. Pada talkshow ini Koalisi Pemuda Hijau Indonesia Kalimantan Timur (KOPHI KALTIM) mengangkat tema “Memperingati 25 Tahun Hari Keanekaragaman Hayati dengan Memerangi Kantong Plastik”. Para narasumber dalam talkshow ini adalah Dr. Danielle Kreb dari Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species Indonesia (RASI), Bapak Rustam S.Hut, M.P akademisi Universitas Mulawarman dan moderator oleh Sulastri.


Bapak Rustam S.Hut, M.P mengemukakan bahwa apapun yang ada di dunia ini memiliki fungsi, sekecil apapun makhluk hidupnya. Setiap jenis hewan merupakan bio indikator, ketika ada satu jenis yang hilang maka akan muncul ketimpangan ekologi disana. Contoh, ketika berada di rawa kemudian mendengar ada suara kodok yang besar, hal itu menunjukkan bahwa air yang ada di rawa itu kotor maka jangan mencoba untuk meminumnya. Masing-masing dari kita memiliki peran untuk menjaga lingkungan, mulai dari hal-hal terkecil dulu sampai hal terbesar yang bisa dilakukan adalah melakukan sebuah aksi terkait kebijakan yang salah. Beliau juga mengemukakan fakta di lapangan bahwa perusakan habitat flora dan fauna yang paling substansi adalah oleh sampah, seperti tersangkutnya plastik di akar-akar mangrove. Data menurut salah satu studi, diketahui bahwa sampah yang ditimbulkan Samarinda setiap bulannya setara dengan 6 kali tumpukan Candi Borobudur.


Dr. Danielle Kreb pun juga mendapati fakta yang tidak jauh berbeda. Beliau mengatakan bahwa kita tidak boleh meremehkan masalah sampah, tetapi kita juga mendapati permasalahan yang tidak kalah besar yaitu pembukaan lahan untuk sawit, batu bara dan polusi yang dihasilkannya. Beliau dan tim mendapati data bahwa Sungai Mahakan di beberapa titik sudah tercemar dan tidak main-main karena untuk logam berat pun sudah tinggi. Kedua narasumber pun mengemukakan bahwa ada kesalahan dalam perencanaan, dimana Samarinda tidak memiliki dokumen pendukung seperti dokumen profil keanekaragaman hayati, dokumen daya dukung dan daya tampung sehingga rencana pembangunannya tidak dibatasi. Contoh, boleh membuka lahan sawit dengan jarak 50 m dari anak sungai, karena 50 m dari anak sungai itu ada rawa yang merupakan habitat ikan untuk pemijahan/bertelur. Ketika disana dibuka lahan sawit kemudian mengalirlah herbisida, pestisida dan sebagainya maka habitat ikan akan rusak dan banyak yang akan menjadi korban, ada nelayan, ikan termasuk juga Pesut dan satwa lain.
Sampah adalah pembunuh yang tidak terlihat. Plastik sebenarnya tidak terurai, plastik akan berubah menjadi mikroplastik yaitu plastik dengan butiran di bawah 0.5mm, kita tidak menyadari banyak plastik disekitar kita terutama di Sungai Mahakam yang kemudian mengendap masuk ke air PDAM, masuk ke tubuh ikan dan dampaknya bisa menyebabkan kanker pada tubuh kita. Yayasan Rasi juga berfokus pada riset mengenai Pesut Mahakam, suatu ketika menemukan mamalia tersebut mati karena sampah dan jaring bekas yang terhanyut di perairan. Saat dilakukan pembedahan pada pesut tersebut terdapat popok bekas di dalam perutnya.
Salah satu solusi terpenting dalam menanggulangi sampah adalah melakukan 3 R: Reduce, Reuse, Recycle. Kita bisa melakukannya dengan membawa tas belanja sendiri, membawa botol minum isi ulang apalagi ketika mengadakan acara. Kadang kita menghadapi kendala dalam melakukannya, contoh kecil ketika kita berada di toko dan menolak menggunakan tas kresek, pegawai toko melarangnya. Dalam melaksanakan 3R ini juga peran pemerintah sangatlah penting. Di luar negeri sudah disediakan tempat sampah yang berbeda untuk plastik, organik, baju, baterai dan sebagainya sehingga sudah jelas memisahkannya. Di Jepang sendiri dibedakan waktu pembuangan sampahnya. Ada waktu untuk membuang sampah kertas, membuang sampah plastik dan sebagainya. Ketika kita membuang sampah di hari yang salah maka kita akan diberikan stiker atau bahkan sampah kita bisa dikembalikan ke depan pintu kita. Sebagai komunitas juga kita bisa mengajak teman-teman untuk pergi ke habitat asli seperti ke hutan, karena dengan ini kita bisa mempelajari peran makhluk hidup di dalamnya dan memunculkan rasa kepedulian di dalam diri kita.
Bapak Rustam S.Hut, M.P menambahkan bahwa kita harus menciptakan stigma bahwa melakukan hal-hal kecil untuk menjaga lingkungan seperti itu adalah keren karena stigma keren itu harus kita sendiri yang menciptakannya dan itu adalah bagian dari kampanye lingkungan. Kita harus ambil bagian dalam aksi lingkungan, kita memiliki smartphone kita viralkan kegiatan-kegiatan peduli lingkungan. Sehingga semua orang tahu informasi-informasi terkait dampak lingkungan. Kita juga harus berani menegur teman-teman kita yang tidak melakukannya, “Contoh ketika saya di kampus, saya tidak akan mulai pembelajaran kalau saya lihat masih ada sampah-sampah yang ada di pinggiran jendela.” Bapak Rustam S.Hut, M.P juga memberikan saran untuk membuat tulisan di tempat-tempat sampah yang mengajak mereka untuk mulai memisahkan sampah. Kalau kita memisahkan sampah seperti itu maka kita sudah melakukan aksi ramah lingkungan dan memberikan kemudahan kepada para pemulung.


Menurut para narasumber, Indonesia kurang berdaulat terhadap keanekaragaman hayati, di tengah fakta yang menyatakan Indonesia menduduki peringkat pertama menggugurkan Brazil sebagai sebagai salah satu sumber megabiodiversity dunia. Dr. Danielle Kreb saat memberikan pernyataan terakhir mengatakan bahwa kita bisa mengembalikan Samarinda seperti slogan yang selama ini dimilikinya sebagai kota teduh rapi dan nyaman. Bapak Rustam S.Hut, M.P mengatakan kita harus mulai dari hal kecil, mulai dari rumah dan diri sendiri. Mulai memisahkan sampah dan memviralkan pesan-pesan terkait isu lingkungan.


Salah satu aksi nyata yang diorganisir Koalisi Pemuda Hijau Indonesia Kalimantan Timur (KOPHI KALTIM) adalah kampanye pengurangan penggunaan plastik. Di acara ini, kawan-kawan yang datang bisa menukarkan 15 sampah botol minum kemasan bekas dengan 1 tas belanja. Dengan membawa tas belanja sendiri saat membeli makanan, minuman, ataupun keperluan lainnya, berarti kita melakukan aksi nyata untuk menghindari pemakaian kantong plastik sekali pakai.


Acara ini diikuti oleh berbagai komunitas di Kalimantan Timur yaitu Generasi Baru Indonesia (GenBI), Mahasiswa Pecinta Flora dan Fauna (Maplofa) Universitas Mulawarman, You Kaltim, Muda Mengajar Samarinda, Samarinda Doodle Art, Earth Hour Samarinda, Forum Indonesia Muda (FIM) Samarinda, Junior Chamber International (JCI) Kalimantan Timur, Green Generation Samarinda, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda (Politani), 1000 Guru Samarinda, Pusat Studi Islam Mahasiswa Universitas Mulawarman (Pusdima Unmul), Mahasiswa Pencinta Alam Amazon Teknik Mesin Politeknik Negeri Samarinda, SMAN 10 Samarinda, Samarinda Clean Action, Tangan Di Atas Samarinda, Bina Lingkungan Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda, Unit Kegiatan Mahasiswa Suara Kritis dan Edukatif Mahasiswa (Sketsa) Universitas Mulawarman, Zetizen Kalimantan Timur, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universita Mulawarman, Jaringan Penulis Kaltim dan Yuk! Indonesia Samarinda. Acara ini juga di sponsori oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda, Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species Indonesia (RASI), Roti Gembong Juanda, Nutrisari, Telkomsel Loop, Sunny Selempang dan Media Partner YouKaltim, Radio Republik Indonesia @Balikpapanku @infokaltim.id, @info_kukar dan Samarinda TV.

Untuk menjaga dan mencintai lingkungan, bisa dimulai dari hal terkecil, dimulai dari sekarang, dan dimulai dari diri sendiri. Terima kasih atas keterlibatan berbagai pihak dalam acara Talkshow Etam Membumi. 

Salam Lestari!



Media dan Komunikasi
Koalisi Pemuda Hijau Indonesia Kalimantan Timur (KOPHI KALTIM)
Instagram       : @kophikaltim
Twitter            : @kophikaltim
Facebook       : Kophi Kaltim

Youtube          : KophiKaltim

Senin, 23 April 2018

Aksi Hari Bumi 2018 KOPHI Kalimantan Timur, Dari Gorong-Gorong Sampai Sekolah Dasar





KOPHI KALTIM, Samarinda -  22 April setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Bumi. Pada tahun 2018 ini Koalisi Pemuda Hijau Indonesia Kalimantan Timur (KOPHI KALTIM) memeringati Hari Bumi dengan terjun langsung melaksanakan aksi “Etam Membumi” yaitu membersihkan gorong-gorong bersama masyarakat Kelurahan Jawa Samarinda dan edukasi gaya hidup ramah lingkungan di Sekolah Dasar Al Azhar Syifa Budi Samarinda.

Dalam Aksi “Etam Membumi” 22 April 2018 KOPHI Kalimantan Timur berkolaborasi dengan Kelurahan Jawa, Gemmpar (Gerakan Merawat dan Menjaga Parit) dan seluruh elemen masyarakat untuk membersihkan gorong-gorong di bawah Jalan Gajah Mada Samarinda yang buntu oleh sedimen, bongkahan beton, pipa besar dan sampah yang menumpuk cukup tinggi. Hal ini menyebabkan air hujan tidak bisa langsung mengalir ke Sungai Mahakam sehingga terjadilah banjir yang cukup dalam.

Lurah Jawa, Idfi Septiani, S. STP, M.Si mengatakan bahwa upaya pembersihan gorong-gorong ini sudah beberapa kali dilakukan secara bertahap sejak diketahui setiap turun hujan Kelurahan Jawa selalu banjir.

“Harapan saya dari kegiatan ini timbul rasa tanggung jawab dan rasa memiliki sehingga masyarakat bisa lebih menjaga daerah sekitarnya, juga merubah kebiasaan agar tidak lagi mengotori lingkungan dengan membuang sampah sembarangan,” kata perempuan yang akrab disapa Idfi.

Aksi “Etam Membumi” yang dimulai dari pukul 08.00 wita ini berhasil mengangkat sumbatan sebanyak tiga truk. Seluruh anggota KOPHI Kalimantan Timur, masyarakat bahkan Lurah Jawa pun ikut masuk ke dalam gorong-gorong sempit berukuran 2 X 1.5 meter tersebut.

Pembina KOPHI Kalimantan Timur, Maulana Yudhistira mengatakan bahwa kondisi di dalam gorong-gorong tersumbat dengan sampah, karpet, kayu, tali dan sebagainya. Keadaan di dalam gorong-gorong sangat gelap, pengap, sempit dan tergenang air kurang lebih seukuran dari pinggang sampai dada orang dewasa sehingga membuat upaya pembersihan ini cukup sulit.

Tidak hanya melakukan aksi “Etam Membumi”, KOPHI Kalimantan Timur juga melaksanakan program edukasi KOPHI Kalimantan Timur Goes to School pada 23 April dalam rangka Hari Kartini dan Hari Bumi 2018 bertempat di Sekolah Dasar Al Azhar Syifa Budi Samarinda. Dalam kegiatan ini Kophi Kaltim menyuarakan pentingnya gaya hidup ramah lingkungan dan mengajak adik-adik Sekolah Dasar untuk mulai melakukan pemilahan sampah. Pada Hari Bumi 2018 ini KOPHI Kalimantan Timur menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menghentikan polusi plastik, dikarenakan dampak yang ditimbulkan oleh plastik saat ini sudah sangat berbahaya.

Saat penyampaian dampak sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik, para siswa menunjukkan berbagai macam ekspresi. Ada yang mengerutkan dahi, terkejut, bahkan sedih saat melihat gambar-gambar yang ditampilkan. Gambar tersebut diantaranya adalah anjing laut yang terjerat jala, penyu yang mengira plastik bening sebagai ubur-ubur, hingga burung yang ditemukan mati karena perutnya membusuk dipenuhi plastik.

Dengan adanya serangkaian aksi ini, KOPHI Kalimantan Timur berharap masyarakat dari berbagai usia dan kalangan mulai merubah gaya hidup menjadi lebih ramah lingkungan. KOPHI Kalimantan Timur juga menghimbau untuk membawa botol minuman, wadah bekal sendiri yang bisa digunakan berulang kali, membawa tas belanja sehingga mengurangi penggunaan kantong plastik, mengurangi penggunaan sedotan dan mengolah sampah plastik sebagai produk daur ulang yang bermanfaat.

Salam Lestari!


Media dan Komunikasi
Koalisi Pemuda Hijau Indonesia Kalimantan Timur (KOPHI KALTIM)
Instagram       : @kophikaltim
Twitter            : @kophikaltim
Facebook       : Kophi Kaltim
Youtube          : KophiKaltim









Sabtu, 29 Agustus 2015

Social Media for Social Good Samarinda | Aftermovie

Salam Lestari!

Berikut ringkasan video dari serangkaian kegiatan "Social Media for Social Good" Samarinda 8 - 9 Agustus 2015, yang merupakan kegiatan kerjasama antara US Embassy Jakarta dan Koalisi Pemuda Hijau Indonesia. 




Jumat, 14 Agustus 2015

Seminar Social Media for Social Good

Hotel Grand Kartika, Samarinda | Jalan Khalid No.35, Kota Samarinda, Kalimantan Timur 75111


Akhir pekan lalu, tanggal 8-9 agustus 2015 lalu menjadi giliran KOPHI Kalimantan Timur membawa aksi perubahan bersama US Embassy. Berlokasi di Hotel Grand Kartika Samarinda, kegiatan ini diberi nama Social Media For Social Good.

Bersama tiga pemateri Social Media For Social Good Samarinda yang antara lain Jeffrey Mogalana, Ade Fadli, dan Christian Natalie. Seluk beluk social media, isu lingkungan di Samarinda, sampai bagaimana cara mengambil dan berbagi isu lingkungan di social media, telah di kupas tuntas dalam kegiatan ini.

Dari kiri : Jeffrey Mogalana, Ade Fadli, Christian Natalie

Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 82 peserta dari kalangan SMA, Mahasiswa, Komunitas sampai Instansi Pemerintah. Dan 4 media dari Undas.co, RRI Pro 2 Samarinda, Tepian TV, dan RB FM87.7 juga membantu dalam publikasi.

Peserta memberikan pendapat

Social Media for Social Good adalah kegiatan lokakarya dari kerjasama US Embassy Indonesia dan KOPHI yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman bagaimana memanfaatkan platform digital untuk menggali dan mensosialisasikan isu lingkungan serta menciptakan publikasi positif tentang program “Social Media for Social Good” dan menjalin hubungan baik dengan media. Misi inilah yang ingin disebarkan ke masyarakat luas di 6 kota yang tidak lain adalah Jambi, Makassar, Bangka, Samarinda, Kupang, dan Ternate.

Seperti kita ketahui bahwa social media memiliki peran penting dalam penyebaran informasi ke masyarakat. Kita bisa melihat banyak produk - produk atau iklan - iklan yang sering terlihat di sosial media dan menjadi terkenal dengan pemanfaatan sosial media tersebut. Perusahaan - perusahaan juga telah banyak yang memanfaatkan sosial media sebagai pemancar informasi ke masyarakat demi memperoleh popularitas bisnis mereka.

Dalam catatan APJII, pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 88,1 juta jiwa. Ini merupakan potensi besar untuk memanfaat kan media dengan jumlah masa begitu banyak. Dalam catatan The Wall Street Journal, jumlah pengguna Facebook di Indonesia pada bulan Juni 2014 sudah mencapai angka 69 juta anggota, dan tentu sampai pada 2015 ini angka tersebut juga terus bertambah jumlahnya. Sementara itu, jumlah pengguna Twitter seperti diungkapkan oleh CEO Dick Costolo sudah genap sebanyak 50 juta anggota.

Pengguna sosial media yang notabene nya adalah dari kalangan kamu muda, menjadi target penting untuk penyebaran informasi positif yang membawa perubahan. Kampanye hijau dan sebagainya sangat pas untuk kaum muda yang dengan potensi dan semangatnya, aksi nyata akan bisa terlahir sebagai buah dari ajakan - ajakan positif di sosial media.

Foto bersama

Social Media for Social Good berharap bisa menjadi pendorong terciptanya gerakan – gerakan yang lebih memanfaatkan Social Media sebagai alat untuk berbagi hal – hal positif dan lebih aktif mengkampanyekan isu serta kondisi lingkungan hidup demi perubahan yang lestari :)

Selasa, 21 Juli 2015

Social Media for Social Good Samarinda



SOCIAL MEDIA FOR SOCIAL GOOD 2015 SAMARINDA

Workshop digital "Social Media for Social Good" kerjasama antara Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Rudiantara bersama Duta Besar Amerika Serikat, Robert Blake dan Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) akan hadir di Samarinda tanggal 8 - 9 Agustus 2015.


Program "Social Media for Social Good" dirancang untuk mengatasi kebutuhan dalam pemanfaatan digital pihak-pihak yang berkecimpung dalam bidang lingkungan dan pendidikan. Kolaborasi ini juga melibatkan pakar dari sektor swasta yang diundang untuk membagikan pengalaman dalam penggunaan media digital berkaitan dengan isu lingkungan yang ada di kota Samarinda.
 #SocMed4SocGood

Senin, 15 Juni 2015

Aksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Minggu, 7 Juni 2015 (15:00)

Kalimantan Timur, Area GOR. Sempaja – Samarinda



Dalam memperingati “Hari Lingkungan Hidup Sedunia” 5 Juni 2015, KOPHI Kaltim bekerjasama dengan KKN Unmul - 41 mengadakan aksi - aksi publik untuk mengkampanyekan pelestarian lingkungan. Dengan ragam aksi aksi yang antara lain : Gerakan Permisi, GEMES (Gerakan Memilih Sampah), KOPHI ITEM (Isi Tumbler), & Kelas Daur Ulang, KOPHI Kaltim mencoba membangun kesadaran masyarakat atas kepedulian terhadap keadaan lingkungan sekitarnya.

Salam Lestari :D