Selasa, 05 Juni 2018

Satu Dasawarsa Undang-Undang No.18/2008 tentang Pengelolaan Sampah


Artikel oleh : Adillah Rizma           

Hai Sobat Kophi,
Pada 5 Juni 2018 Kophi Kaltim menghadiri undangan dari Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Kalimantan Timur. Acara syukuran dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2018 sekaligus diskusi dan buka puasa bersama pada hari itu mengangkat tema Satu Dasawarsa Undang-Undang No.18/2008 tentang Pengelolaan Sampah.
Sobat Kophi masih ingat tidak, pada tanggal 21 Februari 2005 di sebuah daerah Leuwigajah terjadi ledakan gas metana di tumpukan sampah sehingga memakan korban sekitar lebih dari 100 jiwa meninggal dunia. Kemudian setiap tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Ternyata kejadian ini tidak hanya berhenti disana, kejadian serupa terulang di berbagai daerah termasuk di Bantargerbang, Bekasi, Jawa Barat.
Lalu pada 7 Mei 2008 terbitlah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah. Untuk memudahkan tugas dan kewajiban pemerintah dalam pengelolaan sampah, maka dibuatlah Undang-undang sebagai payung hukumnya.


Jadi Sobat Kophi, baik pemerintah maupun kita sebagai warga negara memiliki kewajiban untuk mengelola sampah kita agar kejadian di Leuwigajah tidak selalu terulang. Lagipula dampak sampah sangat berbahaya juga bagi kesehatan dan lingkungan kita lho. Berikut adalah dampak sampah bagi kesehatan: 1) penyakit kulit; 2) flu; 3) tifus; 4) leptopirosis; 5) gangguan pernafasan akibat CH4 dan H25; dan beberapa panyakit gangguan pernafasan lainnya. Selain bagi kesehatan, sampah juga akan memberikan dampak bagi lingkungan yang ada di sekitarnya. Seperti mengganggu pemandangan, bau tidak sedap, mencemari air, merusak ekosistem, banjir, dan hal yang merugikan lainnya.
Sudah saatnya kita mengelola sampah kita dengan baik. Sempatkan diri kamu membaca Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 juga ya.
Salam Lestari!


Media dan Komunikasi
Koalisi Pemuda Hijau Indonesia Kalimantan Timur (KOPHI KALTIM)
Instagram       : @kophikaltim
Twitter            : @kophikaltim
Facebook       : Kophi Kaltim


Youtube          : KophiKaltim

Jumat, 01 Juni 2018

Talkshow Etam Membumi 2018 KOPHI KALTIM




KOPHI KALTIM, Samarinda 1 Juni 2018 bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, Koalisi Pemuda Hijau Indonesia Kalimantan Timur (KOPHI KALTIM) mengadakan acara Talkshow Etam Membumi di tribun Taman Cerdas Jalan Mayjen S. Parman Samarinda. Pada talkshow ini Koalisi Pemuda Hijau Indonesia Kalimantan Timur (KOPHI KALTIM) mengangkat tema “Memperingati 25 Tahun Hari Keanekaragaman Hayati dengan Memerangi Kantong Plastik”. Para narasumber dalam talkshow ini adalah Dr. Danielle Kreb dari Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species Indonesia (RASI), Bapak Rustam S.Hut, M.P akademisi Universitas Mulawarman dan moderator oleh Sulastri.


Bapak Rustam S.Hut, M.P mengemukakan bahwa apapun yang ada di dunia ini memiliki fungsi, sekecil apapun makhluk hidupnya. Setiap jenis hewan merupakan bio indikator, ketika ada satu jenis yang hilang maka akan muncul ketimpangan ekologi disana. Contoh, ketika berada di rawa kemudian mendengar ada suara kodok yang besar, hal itu menunjukkan bahwa air yang ada di rawa itu kotor maka jangan mencoba untuk meminumnya. Masing-masing dari kita memiliki peran untuk menjaga lingkungan, mulai dari hal-hal terkecil dulu sampai hal terbesar yang bisa dilakukan adalah melakukan sebuah aksi terkait kebijakan yang salah. Beliau juga mengemukakan fakta di lapangan bahwa perusakan habitat flora dan fauna yang paling substansi adalah oleh sampah, seperti tersangkutnya plastik di akar-akar mangrove. Data menurut salah satu studi, diketahui bahwa sampah yang ditimbulkan Samarinda setiap bulannya setara dengan 6 kali tumpukan Candi Borobudur.


Dr. Danielle Kreb pun juga mendapati fakta yang tidak jauh berbeda. Beliau mengatakan bahwa kita tidak boleh meremehkan masalah sampah, tetapi kita juga mendapati permasalahan yang tidak kalah besar yaitu pembukaan lahan untuk sawit, batu bara dan polusi yang dihasilkannya. Beliau dan tim mendapati data bahwa Sungai Mahakan di beberapa titik sudah tercemar dan tidak main-main karena untuk logam berat pun sudah tinggi. Kedua narasumber pun mengemukakan bahwa ada kesalahan dalam perencanaan, dimana Samarinda tidak memiliki dokumen pendukung seperti dokumen profil keanekaragaman hayati, dokumen daya dukung dan daya tampung sehingga rencana pembangunannya tidak dibatasi. Contoh, boleh membuka lahan sawit dengan jarak 50 m dari anak sungai, karena 50 m dari anak sungai itu ada rawa yang merupakan habitat ikan untuk pemijahan/bertelur. Ketika disana dibuka lahan sawit kemudian mengalirlah herbisida, pestisida dan sebagainya maka habitat ikan akan rusak dan banyak yang akan menjadi korban, ada nelayan, ikan termasuk juga Pesut dan satwa lain.
Sampah adalah pembunuh yang tidak terlihat. Plastik sebenarnya tidak terurai, plastik akan berubah menjadi mikroplastik yaitu plastik dengan butiran di bawah 0.5mm, kita tidak menyadari banyak plastik disekitar kita terutama di Sungai Mahakam yang kemudian mengendap masuk ke air PDAM, masuk ke tubuh ikan dan dampaknya bisa menyebabkan kanker pada tubuh kita. Yayasan Rasi juga berfokus pada riset mengenai Pesut Mahakam, suatu ketika menemukan mamalia tersebut mati karena sampah dan jaring bekas yang terhanyut di perairan. Saat dilakukan pembedahan pada pesut tersebut terdapat popok bekas di dalam perutnya.
Salah satu solusi terpenting dalam menanggulangi sampah adalah melakukan 3 R: Reduce, Reuse, Recycle. Kita bisa melakukannya dengan membawa tas belanja sendiri, membawa botol minum isi ulang apalagi ketika mengadakan acara. Kadang kita menghadapi kendala dalam melakukannya, contoh kecil ketika kita berada di toko dan menolak menggunakan tas kresek, pegawai toko melarangnya. Dalam melaksanakan 3R ini juga peran pemerintah sangatlah penting. Di luar negeri sudah disediakan tempat sampah yang berbeda untuk plastik, organik, baju, baterai dan sebagainya sehingga sudah jelas memisahkannya. Di Jepang sendiri dibedakan waktu pembuangan sampahnya. Ada waktu untuk membuang sampah kertas, membuang sampah plastik dan sebagainya. Ketika kita membuang sampah di hari yang salah maka kita akan diberikan stiker atau bahkan sampah kita bisa dikembalikan ke depan pintu kita. Sebagai komunitas juga kita bisa mengajak teman-teman untuk pergi ke habitat asli seperti ke hutan, karena dengan ini kita bisa mempelajari peran makhluk hidup di dalamnya dan memunculkan rasa kepedulian di dalam diri kita.
Bapak Rustam S.Hut, M.P menambahkan bahwa kita harus menciptakan stigma bahwa melakukan hal-hal kecil untuk menjaga lingkungan seperti itu adalah keren karena stigma keren itu harus kita sendiri yang menciptakannya dan itu adalah bagian dari kampanye lingkungan. Kita harus ambil bagian dalam aksi lingkungan, kita memiliki smartphone kita viralkan kegiatan-kegiatan peduli lingkungan. Sehingga semua orang tahu informasi-informasi terkait dampak lingkungan. Kita juga harus berani menegur teman-teman kita yang tidak melakukannya, “Contoh ketika saya di kampus, saya tidak akan mulai pembelajaran kalau saya lihat masih ada sampah-sampah yang ada di pinggiran jendela.” Bapak Rustam S.Hut, M.P juga memberikan saran untuk membuat tulisan di tempat-tempat sampah yang mengajak mereka untuk mulai memisahkan sampah. Kalau kita memisahkan sampah seperti itu maka kita sudah melakukan aksi ramah lingkungan dan memberikan kemudahan kepada para pemulung.


Menurut para narasumber, Indonesia kurang berdaulat terhadap keanekaragaman hayati, di tengah fakta yang menyatakan Indonesia menduduki peringkat pertama menggugurkan Brazil sebagai sebagai salah satu sumber megabiodiversity dunia. Dr. Danielle Kreb saat memberikan pernyataan terakhir mengatakan bahwa kita bisa mengembalikan Samarinda seperti slogan yang selama ini dimilikinya sebagai kota teduh rapi dan nyaman. Bapak Rustam S.Hut, M.P mengatakan kita harus mulai dari hal kecil, mulai dari rumah dan diri sendiri. Mulai memisahkan sampah dan memviralkan pesan-pesan terkait isu lingkungan.


Salah satu aksi nyata yang diorganisir Koalisi Pemuda Hijau Indonesia Kalimantan Timur (KOPHI KALTIM) adalah kampanye pengurangan penggunaan plastik. Di acara ini, kawan-kawan yang datang bisa menukarkan 15 sampah botol minum kemasan bekas dengan 1 tas belanja. Dengan membawa tas belanja sendiri saat membeli makanan, minuman, ataupun keperluan lainnya, berarti kita melakukan aksi nyata untuk menghindari pemakaian kantong plastik sekali pakai.


Acara ini diikuti oleh berbagai komunitas di Kalimantan Timur yaitu Generasi Baru Indonesia (GenBI), Mahasiswa Pecinta Flora dan Fauna (Maplofa) Universitas Mulawarman, You Kaltim, Muda Mengajar Samarinda, Samarinda Doodle Art, Earth Hour Samarinda, Forum Indonesia Muda (FIM) Samarinda, Junior Chamber International (JCI) Kalimantan Timur, Green Generation Samarinda, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda (Politani), 1000 Guru Samarinda, Pusat Studi Islam Mahasiswa Universitas Mulawarman (Pusdima Unmul), Mahasiswa Pencinta Alam Amazon Teknik Mesin Politeknik Negeri Samarinda, SMAN 10 Samarinda, Samarinda Clean Action, Tangan Di Atas Samarinda, Bina Lingkungan Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda, Unit Kegiatan Mahasiswa Suara Kritis dan Edukatif Mahasiswa (Sketsa) Universitas Mulawarman, Zetizen Kalimantan Timur, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universita Mulawarman, Jaringan Penulis Kaltim dan Yuk! Indonesia Samarinda. Acara ini juga di sponsori oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda, Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species Indonesia (RASI), Roti Gembong Juanda, Nutrisari, Telkomsel Loop, Sunny Selempang dan Media Partner YouKaltim, Radio Republik Indonesia @Balikpapanku @infokaltim.id, @info_kukar dan Samarinda TV.

Untuk menjaga dan mencintai lingkungan, bisa dimulai dari hal terkecil, dimulai dari sekarang, dan dimulai dari diri sendiri. Terima kasih atas keterlibatan berbagai pihak dalam acara Talkshow Etam Membumi. 

Salam Lestari!



Media dan Komunikasi
Koalisi Pemuda Hijau Indonesia Kalimantan Timur (KOPHI KALTIM)
Instagram       : @kophikaltim
Twitter            : @kophikaltim
Facebook       : Kophi Kaltim

Youtube          : KophiKaltim

Senin, 23 April 2018

Aksi Hari Bumi 2018 KOPHI Kalimantan Timur, Dari Gorong-Gorong Sampai Sekolah Dasar





KOPHI KALTIM, Samarinda -  22 April setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Bumi. Pada tahun 2018 ini Koalisi Pemuda Hijau Indonesia Kalimantan Timur (KOPHI KALTIM) memeringati Hari Bumi dengan terjun langsung melaksanakan aksi “Etam Membumi” yaitu membersihkan gorong-gorong bersama masyarakat Kelurahan Jawa Samarinda dan edukasi gaya hidup ramah lingkungan di Sekolah Dasar Al Azhar Syifa Budi Samarinda.

Dalam Aksi “Etam Membumi” 22 April 2018 KOPHI Kalimantan Timur berkolaborasi dengan Kelurahan Jawa, Gemmpar (Gerakan Merawat dan Menjaga Parit) dan seluruh elemen masyarakat untuk membersihkan gorong-gorong di bawah Jalan Gajah Mada Samarinda yang buntu oleh sedimen, bongkahan beton, pipa besar dan sampah yang menumpuk cukup tinggi. Hal ini menyebabkan air hujan tidak bisa langsung mengalir ke Sungai Mahakam sehingga terjadilah banjir yang cukup dalam.

Lurah Jawa, Idfi Septiani, S. STP, M.Si mengatakan bahwa upaya pembersihan gorong-gorong ini sudah beberapa kali dilakukan secara bertahap sejak diketahui setiap turun hujan Kelurahan Jawa selalu banjir.

“Harapan saya dari kegiatan ini timbul rasa tanggung jawab dan rasa memiliki sehingga masyarakat bisa lebih menjaga daerah sekitarnya, juga merubah kebiasaan agar tidak lagi mengotori lingkungan dengan membuang sampah sembarangan,” kata perempuan yang akrab disapa Idfi.

Aksi “Etam Membumi” yang dimulai dari pukul 08.00 wita ini berhasil mengangkat sumbatan sebanyak tiga truk. Seluruh anggota KOPHI Kalimantan Timur, masyarakat bahkan Lurah Jawa pun ikut masuk ke dalam gorong-gorong sempit berukuran 2 X 1.5 meter tersebut.

Pembina KOPHI Kalimantan Timur, Maulana Yudhistira mengatakan bahwa kondisi di dalam gorong-gorong tersumbat dengan sampah, karpet, kayu, tali dan sebagainya. Keadaan di dalam gorong-gorong sangat gelap, pengap, sempit dan tergenang air kurang lebih seukuran dari pinggang sampai dada orang dewasa sehingga membuat upaya pembersihan ini cukup sulit.

Tidak hanya melakukan aksi “Etam Membumi”, KOPHI Kalimantan Timur juga melaksanakan program edukasi KOPHI Kalimantan Timur Goes to School pada 23 April dalam rangka Hari Kartini dan Hari Bumi 2018 bertempat di Sekolah Dasar Al Azhar Syifa Budi Samarinda. Dalam kegiatan ini Kophi Kaltim menyuarakan pentingnya gaya hidup ramah lingkungan dan mengajak adik-adik Sekolah Dasar untuk mulai melakukan pemilahan sampah. Pada Hari Bumi 2018 ini KOPHI Kalimantan Timur menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menghentikan polusi plastik, dikarenakan dampak yang ditimbulkan oleh plastik saat ini sudah sangat berbahaya.

Saat penyampaian dampak sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik, para siswa menunjukkan berbagai macam ekspresi. Ada yang mengerutkan dahi, terkejut, bahkan sedih saat melihat gambar-gambar yang ditampilkan. Gambar tersebut diantaranya adalah anjing laut yang terjerat jala, penyu yang mengira plastik bening sebagai ubur-ubur, hingga burung yang ditemukan mati karena perutnya membusuk dipenuhi plastik.

Dengan adanya serangkaian aksi ini, KOPHI Kalimantan Timur berharap masyarakat dari berbagai usia dan kalangan mulai merubah gaya hidup menjadi lebih ramah lingkungan. KOPHI Kalimantan Timur juga menghimbau untuk membawa botol minuman, wadah bekal sendiri yang bisa digunakan berulang kali, membawa tas belanja sehingga mengurangi penggunaan kantong plastik, mengurangi penggunaan sedotan dan mengolah sampah plastik sebagai produk daur ulang yang bermanfaat.

Salam Lestari!


Media dan Komunikasi
Koalisi Pemuda Hijau Indonesia Kalimantan Timur (KOPHI KALTIM)
Instagram       : @kophikaltim
Twitter            : @kophikaltim
Facebook       : Kophi Kaltim
Youtube          : KophiKaltim